Jembatan Teluk Palu

Salodik Waterfal merupakan salah satu objek wisata di kabupaten luwuk

Hasil kerja siswa dapat di nilai langsung melalui penggunaan media flash

Sunday, October 28, 2012

Kurikulum Program Studi Pendidikan Matematika Universitas Tadulako


Program Studi Pendidikan Matematika (S-1)
No.
Matakuliah
Kode Mata Kuliah

SKS
A.  Mata Pengembangan Kepribadian (MPK)


1
Pendidikan Pancasila
MPK 101
2
2
Pendidikan Agama
MPK 102
2
3
Pendidikan Kewarganegaraan
MPK 103
2
I. Matakuliah Keahlian dan Keterampilan (MKK) Wajib
4
Bahasa Inggris Profesi
MAT 201
2
5
Kalkulus I
MAT 202
3
6
Kalkulus II
MAT 203
3
7
Fisika Dasar
MAT 204
4
8
Kimia Dasar
MAT 205
4
9
Biologi Umum
MAT 206
3
10
Pengantar Dasar Matematika
MAT 207
3
11
Teori Bilangan
MAT 208
3
12
Statistika Dasar
MAT 209
3
13
Aljabar Linear Elementer
MAT 210
4
14
Dasar-dasar Komputer
MAT 211
3
15
Geometri
MAT 212
4
16
Kalkulus Lanjut
MAT 213
3
17
Pemrograman Komputer
MAT 214
3
18
Statistika Matematika I
MAT 215
3
19
Program Linear
MAT 216
3
20
Geometri Analitik
MAT 217
3
21
Persamaan Diferensial
MAT 218
3
22
Analisis Real I
MAT 219
3
23
Struktur Aljabar I
MAT 220
3
24
Geometri Transformasi
MAT 221
3
25
Matematika Diskrit
MAT 222
3
26
Seminar Problematika Pembelajaran Matematika
MAT 223
3
27
Analisis Kompleks
MAT 224
3
II. Matakuliah Keahlian dan Keterampilan (MKK) Pilihan 9 SKS
28
Statistika Matematika II
MAT 225
3
29
Analisis Real II
MAT 226
3
30
Persoalan Nilai Awal dan Syarat Batas
MAT 227
3
31
Komputer Pengolah Data
MAT 228
3
32
Metode Numerik
MAT 229
3
33
Struktur Aljabar II
MAT 230
3
34
Analisis Regresi
MAT 231
3
35
Pengajaran Matematika SD
MAT 232
3
36
Aplikasi Komputer
MAT 233
3
37
Teori Graph
MAT 234
3
B.  Matakuliah Keahlian Berkarya (MKB)


38
Pengantar Pendidikan
MAT 301
3
39
Perkembangan Peserta Didik
MAT 302
2
40
Belajar dan Pembelajaran Matematika
MAT 303
3
41
Model Pembelajaran Matematika I
MAT 304
3
42
Model Pembelajaran Matematika II
MAT 305
3
43
Asesmen Pembelajaran Matematika
MAT 306
4
44
Kajian dan Pengembangan Matematika Sekolah I
MAT 307
3
45
Kajian dan Pengembangan Matematika Sekolah II
MAT 308
3
46
Kajian dan Pengembangan Matematika Sekolah III
MAT 309
3
47
Penelitian Pendidikan Matematika
MAT 310
4
48
Skripsi
MAT 311
6
C.  Matakuliah Perilaku Berkarya (MPB)
49
Microteaching
MPB 401
3
50
Praktek Pengalaman Lapangan Terpadu
MPB 402
4
51
Kewirausahaan
MPB 403
2
D.  Matakuliah Berkehidupan Bermasyarakat (MBB)


52
Ilmu Sosial dan Budaya Dasar
MBB 501
2
53
Bahasa Indonesia
MBB 502
2
54
Kajian Lingkungan Hidup
MBB 503
2
55
Bahasa Inggris
MBB 504
2
Jumlah SKS Matakuliah Wajib            = 135
Jumlah SKS Matakuliah Pilihan           = 9
Total SKS = 144

Source: http://fkip.untad.ac.id/index.php/pend-matematika

Saturday, October 27, 2012

Sekilas tentang Prof Dr Hans Freudenthal (1905 - 1990)




Hans Freudenthal lahir pada tahun 1905 di kota Jerman Luckenwalde, putra seorang guru Yahudi. Bahkan pada usia muda ia tertarik pada persamaan diferensial dan integral, namun pada usia 13 ia juga membaca semua karya Goethe dan Schiller. Pada tahun 1923 ia pergi ke Berlin dan Paris untuk belajar matematika. Setelah lulus Doktor ia pindah ke Amsterdam, di Belanda, di mana ia menjadi asisten LEJ Brouwer, ahli matematika yang terkenal, pada tahun 1930. Tak lama setelah itu, ia menikah dengan Suus Lutter yang merupakan ahli pedagogik. Berkat pernikahannya dengan seorang wanita Belanda Arian  membawa sejumlah keberuntungan, Freudenthal mampu bertahan pada Perang Dunia Kedua.
Pada tahun 1946 Freudenthal menjadi profesor di Utrecht, Ia ditunjuk untuk menangani matematika murni dan terapan, dan prinsip-prinsip matematika. Pada saat itu Freudenthal adalah seorang matematikawan yang terkenal, dan ia juga berkontribusi besar pada bidang topologi, geometri dan teori grup.

Sebagai seorang guru ia memperoleh ketenaran internasional sebagai pendiri pendidikan matematika realistik, yang didasarkan pada masalah yang diambil dari pengalaman sehari-hari bukan dari  matematika abstrak. Secara individu Freudenthal memperbaharui pendidikan di Belanda dari pengaruh metode New Math dari Amerika, yang diperkenalkan di banyak negara dari tahun 1960 dan seterusnya. Metode formal, berdasarkan logika ternyata tidak sesuai bagi sebagian besar siswa.

Freudenthal lebih suka membimbing murid-muridnya pada proses penemuan. Mottonya adalah Anda belajar matematika terbaik dengan menemukan kembali. Siswa-siswanya tidak diberi masalah yang abstrak dalam proses pembelajaran tapi dengan menggunakan masalah-masalah dari kehidupan sehari-hari, dan dalam memecahkan ini mereka secara bertahap mengembangkan pemahaman matematika. Selain itu, Freudenthal berpendapat bahwa mengenali masalah akan mengarahkan siswa secara otomatis untuk lebih tertarik pada matematika.

Pada tahun 1971 Freudenthal mendirikan IOWO (Wiskundeonderwijs Ontwikkeling Instituut, Institut Pengembangan Pendidikan Matematika), sekarang disebut Institut Freudenthal (FI). FI terus menjadi salah satu kekuatan pendorong dalam pembaharuan pendidikan matematika, baik di Belanda maupun di luar negeri.

Secara khusus Freudenthal adalah seorang penulis. Tulisannya yang tak terhitung jumlahnya selama bertahun-tahun, seperti De Groene Amsterdammer dan NRC Handelsblad, pada berbagai topik termasuk bahasa, sejarah dan politik. Selain itu, setelah kematiannya karya yang tidak dipublikasikan banyak - puisi, drama dan novel - yang ditemukan di tanah miliknya.

Hans Freudenthal, pembaharu pendidikan, meninggal dunia pada tanggal 13 Oktober 1990. Dia ditemukan di bangku taman oleh anak-anak yang bermain di sana. Untuk informasi lebih lanjut tentang Hans Freudenthal,
Berikut: beberapa buku karya Hans Freudenthal:

  1. Weeding and Sowing: Preface to a Science of Mathematical Education by Hans Freudenthal (Feb 29, 1980)
  2. Revisiting Mathematics Education: China Lectures (Mathematics Education Library) by Hans Freudenthal(Sep 30, 1991)
  3. Didactical Phenomenology of Mathematical Structures (Mathematics Education Library) by Hans Freudenthal (May 27, 2008)
  4. Mathematics as an Educational Task by Hans Freudenthal (Dec 31, 1972)
  5. Vorrede zu einer Wissenschaft vom Mathematikunterricht (Mathematik, Didaktik und Unterrichtspraxis) (German Edition) by Hans Freudenthal (1978)

Berikut: beberapa buku karya Hans Freudenthal:

Sources: http://www.fisme.science.uu.nl/en/freudenthal.html
http://www.amazon.com/Hans-Freudenthal/e/B001JXJE9U
http://www-groups.dcs.st-and.ac.uk/~history/Mathematicians/Freudenthal.html

Thursday, October 25, 2012

Pendekatan PMRI

1. Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI)
PMRI merupakan suatu pendekatan yang diadopsi dari Belanda yang bernama RME (Realistic Mathematics Education). RME itu sendiri dikembangkan berdasarkan pemikiran Hans  Freudenthal yang mengatakan bahwa matematika merupakan aktivitas manusia (mathematics as a human activity). Freudenthal juga berpendapat bahwa siswa tidak dapat dipandang sebagai penerima pasif matematika yang sudah jadi. Pendidikan matematika harus diarahkan
pada penggunaan berbagai situasi dan kesempatan yang memungkinkan siswa menemukan kembali (reinvention) matematika berdasarkan usaha merekasendiri. Dalam RME dunia nyata digunakan sebagai titik awal untuk pengembangan ide dan konsep matematika. 
 
Matematika sebagai aktivitas manusia berarti manusia harus diberi kesempatan untuk menemukan kembali ide dan konsep matematika dengan bimbingan orang dewasa. Upaya ini dilakukan melalui penjelajahan berbagai situasi dan persoalan-persoalan realistik. Realistik dalam hal ini dimaksudkan tidak mengacu pada realitas saja, tetapi juga pada sesuatu yang dapat dibayangkan oleh siswa. Prinsip penemuan kembali dapat diinspirasi oleh prosedur-prosedur pemecahan informal, sedangkan proses penemuan kembali menggunakan konsep matematisasi.
Ada dua jenis matematisasi yang diformulasikan oleh Treffers, yaitu matematisasi horisontal dan vertikal. Berdasarkan keberadaan matematisasi horisontal dan vertikal, pendekatan dalam pendidikan matematika dapat dibedakan menjadi empat jenis yaitu pendekatan: mekanistik, empiristik, strukturalistik, dan realistik. Pendekatan mekanistik merupakan pendekatan tradisional yang tidak memperhatikan matematisasi horisontal dan vertikal. Pendekatan empiristik adalah suatu pendekatan yang menekankan pada matematisasi horisontal, tetapi mengabaikan matematisasi vertikal. Pendekatan strukturalistik merupakan pendekatan yang menekankan matematisasi vertikal, tetapi mengabaikan matematisasi horisontal. Pendekatan realistik adalah suatu pendekatan yang menggunakan masalah realistik sebagai pangkal tolak pembelajaran. Melalui aktivitas matematisasi horisontal dan vertikal diharapkan siswa-siswa dapat menemukan dan mengkonstruksi konsep-konsep matematika.
Pendidikan Matematika Realistik (PMR) merupakan teori belajar mengajar dalam matematika yang memiliki konsep dasar dan karakteristik yang berbeda dengan yang lain. Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) merupakan adopsi dari Realistic Mathematis Education (RME) yang sudah dikembangkan dan disesuaikan dengan konteks Indonesia, sehingga. PMRI bukanlah sekedar jiplakan dari RME yang dikembangkan di negara asalnya.
2. Pengertian Pendidikan Matematika Realistik (PMR)
Pendidikan Matematika Realistik (PMR) adalah pendidikan matematika yang dilaksanakan dengan menempatkan realitas dan pengalaman siswa sebagai titik awal pembelajaran.. Masalah-masalah realistik digunakan sebagai sumber munculnya konsep-konsep matematika atau pengetahuan matematika formal. Pembelajaran ini sangat berbeda dengan pembelajaran matematika selama ini yang cenderung berorientasi kepada pemberian informasi dan menggunakan matematika yang siap pakai untuk menyelesaikan masalah-masalah.
Oleh karena matematika realistik menggunakan masalah realistik sebagai pangkal tolak pembelajaran, maka situasi masalah perlu diusahakan benar-benar kontekstual atau sesuai dengan pengalaman siswa-siswi, sehingga mereka dapat menyelesaikan masalah dengan cara-cara informal melalui matematisasi horisontal. Cara-cara informal yang ditunjukkan oleh siswa-siswi digunakan sebagai inspirasi pembentukan konsep atau aspek matematiknya, kemudian ditingkatkan ke matematisasi vertikal. Melalui proses matematisasi horisontal-vertikal diharapkan siswa-siswi dapat memahami atau menemukan konsep-konsep matematika (pengetahuan matematika formal).
  1. Prinsip Prinsip PMR
Ada tiga prinsip utama dalam PMR, yaitu penemuan kembali terbimbing (guided reinvention) dan matematisasi progresif (progressive mathematization); Fenomenologi didaktik (didactical penenomenology), serta mengembangkan model-model sendiri (self developed models). Penjelasan singkat dari prinsip-prinsip tersebut sebagai berikut:
  • Penemuan kembali terbimbing (guided reinvention) dan matematisasi progresif (progressive mathematization), artinya dalam mempelajari matematika, perlu diupayakan agar siswa-siswi mempunyai pengalaman dalam menemukan sendiri berbagai konsep, prinsip matematika.
  • Fenomenologi didaktik (didactical penenomenology), artinya bahwa dalam mempelajari konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan materi-materi lain dalam matematika, para peserta didik perlu bertolak dari fenomena-fenomena kontekstual, yaitu masalah-masalah yang berasal dari dunia nyata, atau setidak-tidaknya dari masalah yang dapat dibayangkan.
  • Mengembangkan model-model sendiri (self developed models), artinya bahwa dalam mempelajari konsep-konsep atau materi-materi matematika yang lain melalui masalah-masalah kontekstual, siswa-siswi perlu mengembangkan sendiri model-model atau cara menyelesaikan masalah tersebut.
  1. Karakteristik PMR
    De Lange juga mengungkapkan bahwa teori PMRI terdiri dari 5 (lima) karakteristik (Zulkardi, 1999) yaitu :
    a.     Penggunaan konteks nyata (real context) sebagai starting point dalam pembelajaran untuk dieksplorasi.
    b.             Penggunaan model-model.
    c.             Penggunaan hasil belajar siswa dan kontruksi.
    d.             Interaksi dalam proses belajar atau interaktivitas.
    e.             Keterkaitan (connection) dalam berbagai bagian dari materi pelajaran.


Source:
http://growol.blogspot.com/2011/12/pendekatan-pmri-pendidikan-matematika.html
http://h4mm4d.wordpress.com/2009/02/27/pendidikan-matematika-realistik-indonesia-pmri-indonesia/ 
 PMRIPMRIPMRIPMRIPMRI PMRIPMRIPMRIPMRI PMRIPMRIPMRIPMRI,  
 PMRIPMRIPMRIPMRIPMRI PMRIPMRIPMRIPMRI PMRIPMRIPMRIPMRI,  
 PMRIPMRIPMRIPMRIPMRI PMRIPMRIPMRIPMRI PMRIPMRIPMRIPMRI,  
 PMRIPMRIPMRIPMRIPMRI PMRIPMRIPMRIPMRI PMRIPMRIPMRIPMRI,  
 PMRIPMRIPMRIPMRIPMRI PMRIPMRIPMRIPMRI PMRIPMRIPMRIPMRI,  
 PMRIPMRIPMRIPMRIPMRI PMRIPMRIPMRIPMRI PMRIPMRIPMRIPMRI,  
 PMRIPMRIPMRIPMRIPMRI PMRIPMRIPMRIPMRI PMRIPMRIPMRIPMRI,  
 PMRIPMRIPMRIPMRIPMRI PMRIPMRIPMRIPMRI PMRIPMRIPMRIPMRI,  
 PMRIPMRIPMRIPMRIPMRI PMRIPMRIPMRIPMRI PMRIPMRIPMRIPMRI,  
 PMRIPMRIPMRIPMRIPMRI PMRIPMRIPMRIPMRI PMRIPMRIPMRIPMRI,  
 PMRIPMRIPMRIPMRIPMRI PMRIPMRIPMRIPMRI PMRIPMRIPMRIPMRI,  
 PMRIPMRIPMRIPMRIPMRI PMRIPMRIPMRIPMRI PMRIPMRIPMRIPMRI,  
 PMRIPMRIPMRIPMRIPMRI PMRIPMRIPMRIPMRI PMRIPMRIPMRIPMRI,  
 PMRIPMRIPMRIPMRIPMRI PMRIPMRIPMRIPMRI PMRIPMRIPMRIPMRI,  
             

Wednesday, October 24, 2012

Foto-foto




The 2nd International Symposium on Mathematics Education Innovation

The 2nd International Symposium on Mathematics Education Innovation
Dates: 22-23 November 2012
Venue: SEAMEO QITEP in Mathematics, Yogyakarta Indonesia
Host: SEAMEO QITEP in Mathematics, Yogyakarta Indonesia

Symposium Theme:
Transforming Research into Practice: Working towards Joyful and Meaningful Mathematics Towards an Innovative and Sustainable Society.

Target participants
The targets of the symposium are Mathematics teachers, Mathematics teacher educators, Researchers and policy makers on mathematics educations. Student teachers are also welcome and encouraged to attend the symposium.

Objective
The main objective of this symposium is to provide a forum for mathematics educators and researchers to review issues, exchange of ideas and share experiences especially on innovation in mathematics education at all levels.
 
Confirmed Keynotes Speakers
  1. Associate Professor Allan L. White, PhD – the University of Western Sydney, Australia
  2. Robin Avaril, PhD – Victoria University of Wellington, New Zealand
  3. Professor Zulkardi – University of Sriwijaya, Palembang, Indonesia
  4. Sitti Mahesuri Pattahudin, PhD – State University of Surabaya, Indonesia

For more information please click here
Source: http://symposium.qitepinmath.org/
  

Friday, October 19, 2012

Manfaat "Soal Salah"

Maksud dari "soal salah" disini adalah soal yang dengan sengaja di desain oleh guru ataupun peneliti dengan tujuan menguji pemahaman konsep suatu materi yang telah dipelajari oleh siswa. 

Terkadang kita sebagai guru  hampir "tidak pernah" memberikan soal salah kepada siswa untuk mengetes kemampuannya dalam pembelajaran ataupun ujian. Hal ini terjadi karena kita kurang mengetahui mamfaat soal salah dan belum terbiasa mencari ide-ide kreatif dalam mengukur kemampuan siswa. Selain itu, soal soal ini hampir tidak pernah digunakan karena "kurikulum" kita masih mementingkan hasil dari pada proses, misal soal ujian nasional (UN) semuanya dalam bentuk pilihan ganda.

Berikut ada beberapa manfaat menyelipkan soal salah dalam pembelajaran ataupun ujian.
  1. Dapat mengetahui kemampuan siswa dalam memahami suatu konsep suatu materi.  Misalkan terdapat soal seperti gambar di atas, jika terdapat siswa yang memaksakan diri untuk menemukan hasilnya, berarti siswa tersebut belum memahami syarat-syarat perkalian matrik.
  2. Membiasakan siswa untuk berargumentasi. Misalkan terdapat siswa yang memberikan alasan bahwa soal tersebut tidak dapat diselesaikan, selain itu juga mampu memberikan syaratnya agar dapat diselesaikan, berarti siswa tersebut benar-benar paham terhadap konsep perkalian matrik.
Jadi "soal salah" sangatlah penting digunakan dalam mengukur kemampuan siswa.

Thursday, October 18, 2012

Realistic Math Makes Sense for Students

By Eve Torrence

I am a mathematician. I am a college professor. I am a mother. From all three perspectives I have been following with interest the controversy over the current mathematics education reform. Last year I had an experience that finally brought clarity.
My husband, who is also a mathematician, and I had a sabbatical at the University of Utrecht in the Netherlands. We enrolled our eight year-old son, Robert, in a local Dutch school. In doing so we were unconsciously starting a very interesting experiment. At home Robert had been experiencing a traditional mathematics curriculum where a great deal of time and effort is spent on learning the carrying and borrowing algorithms for addition and subtraction. The mathematics curriculum at his Dutch school was very different. The students were working on problems at the same level, but they were encouraged to develop their own techniques for doing the problems. They were not taught the carrying and borrowing algorithms. This approach has been used successfully in Holland for almost thirty years.
At the same time Robert was adapting to a new curriculum, I was studying at the Freudenthal Institute at the University of Utrecht—a world-renowned center for research on mathematics education. I was learning that the curriculum he was experiencing is called Realistic Mathematics Education (RME). In RME, the mathematics is introduced in the context of a carefully chosen problem. In the process of trying to solve the problem the child develops mathematics. The teacher uses the method of guided reinvention, by which students are encouraged to develop their own informal methods for doing mathematics. Students exchange strategies in the classroom and learn from and adopt each other’s methods. I also learned that much research has been done on this approach, that it is based on what we know about child development and the development of numeracy, and that it is this body of research that is driving the math education reform in our country.
When we first arrived in the Netherlands and I began to learn about RME, I spent a little time quizzing Robert on how he would solve a few addition and subtraction problems. I was shocked by the rigid attitude he had developed at his school in the U.S. When asked to do any addition problem with summands larger than 20 he would always invoke the addition algorithm. He would sometimes make mistakes and then report an answer that made no sense. He was putting all his confidence in the procedure and little in his own ability to reason about what might be a sensible answer. When I suggested there was a simpler way he could think about the problem he became upset and told me, “You can’t do that!”
After a few months in Holland, I began to see an amazing difference in Robert’s number sense. He was able to do the same problems more quickly, more accurately, and with much more confidence. For example, I asked him to solve 702 minus 635. He explained, “700 minus 600 is 100. The difference between 2 and 35 is 33, and 100 minus 33 is 67.” When he tried using the algorithm he made a borrowing error and became very frustrated. I asked him to compute 23 times 12. He explained, “23 times 10 is 230, 23 times 2 is 46, 230 plus 46 is 276.” This multiplication problem was much harder than anything in the curriculum at home. I was very impressed with the flexibility and range of methods he had developed in only a few months.
What happened to Robert in those few months has had a profound effect on my perception of learning and on Robert’s understanding of mathematics. My child learned to think. He learned he could think. He was encouraged to think. He learned to see mathematics as creative and pleasurable. This independent attitude towards mathematics will remain with him forever and serve him well. It is this fact that has convinced me of the value of de-emphasizing algorithms in the elementary years.
Unfortunately, Robert is once again back in a school that focuses on the teaching of algorithms. The other day as we were driving to soccer, out of the blue Robert asked from the back seat, “Mommy, wouldn’t it be crazy to do 5000 minus 637 using borrowing?” I smiled proudly at him and said, “Yes, honey, it would.”

 Source: http://mathematicallysane.com/realistic-math-makes-sense-for-students/

Apa itu PISA?

PISA atau Programme for International Student Assessment merupakan suatu progam penilaian terhadap siswa international yang berumur 15 tahun atau di bawahnya. Penilian ini meliputi bidang matematika, sains dan membaca. PISA itu sendiri telah dimulai sejak tahun 1997 dan dilaksanakan setiap tiga tahun sekali. Saat ini negara-negara yang berpartisipasi dalam PISA lebih dari 70 negara. 
Soal-soal yang terdapat pada PISA merupakan masalah kehidupan nyata (real-life problem) yang tidak secara langsung berhubungan dengan kurikulum dari masing-masing negara yang berpartisipasi. Soal PISA dirancang untuk menilai sejauh mana kemampuan siswa dalam mengerjakan soal-soal tersebut. 
Berikut adalah hasil  PISA dari tahun 2000 sampai 2009
2000[3]20032006
Reading literacyMathematicsScience
1. Finland546
2. Canada534
3. New Zealand529
4. Australia528
5. Ireland527
6. South Korea525
7. United Kingdom523
8. Japan522
9. Sweden516
10. Austria507
11. Belgium507
12. Iceland507
13. Norway505
14. France505
15. United States504
16. Denmark497
17. Switzerland494
18. Spain493
19. Czech Republic492
20. Italy487
21. Germany484
22. Hungary480
23. Poland479
24. Greece474
25. Portugal470
26. Luxembourg441
27. Russia462
28. Latvia458
29. Mexico422
30. Brazil396
1. Finland544
2. South Korea542
3. Netherlands538
4. Japan534
5. Canada532
6. Belgium529
7. Switzerland527
8. Australia524
9. New Zealand523
10. Czech Republic516
11. Iceland515
12. Denmark514
13. France511
14. Sweden503
15. Austria506
16. Germany503
17. Ireland503
18. Slovakia498
19. Norway495
20. Luxembourg493
21. Poland490
22. Hungary490
23. Spain485
24. United States483
25. Italy466
26. Portugal466
27. Greece445
28. Turkey423
29. Mexico385
1. Finland563
2. Canada534
3. Japan531
4. New Zealand530
5. Australia527
6. Netherlands525
7. South Korea522
8. Germany516
9. United Kingdom515
10. Czech Republic513
11. Switzerland512
12. Austria511
13. Belgium510
14. Ireland508
15. Hungary504
16. Sweden503
17. Poland498
18. Denmark496
19. France495
20. Iceland491
21. United States489
22. Slovakia488
23. Spain488
24. Norway487
25. Luxembourg486
26. Italy475
27. Portugal474
28. Greece473
29. Turkey424
30. Mexico410



Programme for International Student Assessment (2009)
(OECD members as of the time of the study in boldface)
MathsSciencesReading
1China ShanghaiChina600
2 Singapore562
3 Hong KongChina555
4 South Korea546
5 Taiwan543
6 Finland541
7 Liechtenstein536
8 Switzerland534
9 Japan529
10 Canada527
11 Netherlands526
12 MacauChina525
13 New Zealand519
14 Belgium515
15 Australia514
16 Germany513
17 Estonia512
18 Iceland507
19 Denmark503
20 Slovenia501
21 Norway498
22 France497
23 Slovakia497
24 Austria496
25 Poland495
26 Sweden494
27 Czech Republic493
28 United Kingdom492
29 Hungary490
30 Luxembourg489
31 United States487
32 Portugal487
33 Ireland487
34 Spain483
35 Italy483
36 Latvia482
37 Lithuania477
38 Russia468
39 Greece466
40 Malta463
41 Croatia460
42 Israel447
43 Turkey445
44 Serbia442
45 Azerbaijan431
46 Bulgaria428
47 Uruguay427
48 Romania427
49 United Arab Emirates421
50 Chile421
51 Mauritius420
52 Thailand419
53 Mexico419
54 Trinidad and Tobago414
55 Costa Rica409
56 Kazakhstan405
57 Malaysia404
58 Montenegro403
59 Moldova397
60Venezuela Miranda,Venezuela397
61 Argentina388
62 Jordan387
63 Brazil386
64 Colombia381
65 Georgia379
66 Albania377
67 Tunisia371
68 Indonesia371
69 Qatar368
70 Peru365
71 Panama360
72India Tamil NaduIndia351
73India Himachal PradeshIndia338
74 Kyrgyzstan331
1China ShanghaiChina575
2 Finland554
3 Hong KongChina549
4 Singapore542
5 Japan539
6 South Korea538
7 New Zealand532
8 Canada529
9 Estonia528
10 Australia527
11 Netherlands522
12 Liechtenstein520
13 Germany520
14 Taiwan520
15 Switzerland517
16 United Kingdom514
17 Slovenia512
18 MacauChina511
19 Poland508
20 Ireland508
21 Belgium507
22 Hungary503
23 United States502
24 Norway500
25 Czech Republic500
26 Denmark499
27 France498
28 Iceland496
29 Sweden495
30 Latvia494
31 Austria494
32 Portugal493
33 Lithuania491
34 Slovakia490
35 Italy489
36 Spain488
37 Croatia486
38 Luxembourg484
39 Russia478
40 Greece470
41 Malta461
42 Israel455
43 Turkey454
44 Chile447
45 Serbia443
46 Bulgaria439
47 United Arab Emirates438
48 Costa Rica430
49 Romania428
50 Uruguay427
51 Thailand425
52Venezuela Miranda,Venezuela422
53 Malaysia422
54 Mauritius417
55 Mexico416
56 Jordan415
57 Moldova413
58 Trinidad and Tobago410
59 Brazil405
60 Colombia402
61 Tunisia401
62 Montenegro401
63 Argentina401
64 Kazakhstan400
65 Albania391
66 Indonesia383
67 Qatar379
68 Panama376
69 Georgia373
70 Azerbaijan373
71 Peru369
72India Tamil NaduIndia348
73 Kyrgyzstan330
74India Himachal PradeshIndia325
1China ShanghaiChina556
2 South Korea539
3 Finland536
4 Hong KongChina533
5 Singapore526
6 Canada524
7 New Zealand521
8 Japan520
9 Australia515
10 Netherlands508
11 Belgium506
12 Norway503
13 Estonia501
14 Switzerland501
15 Poland500
16 Iceland500
17 United States500
18 Liechtenstein499
19 Sweden497
20 Germany497
21 Ireland496
22 France496
23 Taiwan495
24 Denmark495
25 United Kingdom494
26 Hungary494
27 Portugal489
28 MacauChina487
29 Italy486
30 Latvia484
31 Greece483
32 Slovenia483
33 Spain481
34 Czech Republic478
35 Slovakia477
36 Croatia476
37 Israel474
38 Luxembourg472
39 Austria470
40 Lithuania468
41 Turkey464
42 Russia459
43 Chile449
44 Costa Rica443
45 Malta442
46 Serbia442
47 United Arab Emirates431
48 Bulgaria429
49 Uruguay426
50 Mexico425
51 Romania424
52Venezuela Miranda,Venezuela422
53 Thailand421
54 Trinidad and Tobago416
55 Malaysia414
56 Colombia413
57 Brazil412
58 Montenegro408
59 Mauritius407
60 Jordan405
61 Tunisia404
62 Indonesia402
63 Argentina398
64 Kazakhstan390
65 Moldova388
66 Albania385
67 Georgia374
68 Qatar372
69 Panama371
70 Peru370
71 Azerbaijan362
72India Tamil NaduIndia337
73India Himachal PradeshIndia317
74 Kyrgyzstan314





















































































Source: http://www.oecd.org/pisa/
 http://en.wikipedia.org/wiki/Programme_for_International_Student_Assessment